MUMTAZNEWS – Di bawah cahaya lampu yang menyorot tajam ke tengah arena, dua anak berseragam putih berdiri tegap. Sabuk yang melilit pinggang mereka bukan sekadar kain, melainkan simbol perjalanan panjang, keringat, air mata, dan tekad yang tak pernah surut.
Pada 3 Agustus 2025, di Bung Tomo Sport Center Surabaya, udara penuh riuh sorak penonton yang bercampur dengan denting gong tanda pertandingan dimulai. Di atas matras biru, M. Arkana Pandu Airlangga dan Moch. Zihdan Hamzah Haikel Badjre, dua ksatria cilik dari SD Muhammadiyah 1–2 Taman (SD Mumtaz), melangkah mantap menantang lawan-lawannya.
Tendangan mereka bukan hanya memecah udara, tapi juga seolah menggores langit, membawa mimpi dan harapan setinggi puncak juara. Hingga akhirnya, keduanya berhasil menorehkan prestasi gemilang: Juara 3 M-Kyorugi Pra Cadet dalam Kejuaraan Taekwondo Piala Wali Kota Surabaya 2025.
Arkana: Menendang Rasa Takut, Menyapa Keberanian.
Arkana mengawali laga dengan tekad penuh, meski hatinya tak memungkiri sedikit rasa kecewa karena tak meraih juara pertama. Namun, ia tahu—setiap kejuaraan adalah perjalanan panjang yang diwarnai pelajaran berharga.
Tantangan terbesarnya bukan hanya lawan di arena, melainkan waktu. Latihan dua kali seminggu sepulang sekolah, sambil tetap menjaga nilai akademik, menuntut disiplin yang tak main-main. Dukungan keluarga, terutama sang ayah, menjadi bahan bakar semangatnya.
Momen paling berkesan adalah ketika ia harus menghadapi lawan bertubuh lebih besar. “Yang penting percaya diri, karena saya sudah berlatih maksimal,” ucapnya. Sejak kelas 2 SD, Arkana lebih tertarik pada taekwondo, terpikat oleh keindahan teknik tendangan yang dominan. Arkana menjadikan Hwang Keung Son, peraih medali emas Olimpiade asal Korea, sebagai inspirasinya. Dengan tekad kuat, ia bermimpi menapaki jejak sang idola dan meraih prestasi serupa di dunia taekwondo.
Hamzah: Dari Matras ke Persahabatan.
Bagi Hamzah, podium juara adalah sebuah permulaan. “Alhamdulillah puas, hanya perlu latihan lebih giat lagi,” katanya singkat, namun matanya memancarkan semangat. Hamzah menjalani latihan taekwondo dua kali dalam seminggu, namun saat ada pertandingan, frekuensinya bertambah menjadi tiga kali. Malam Senin dan Kamis menjadi saksi ketekunan di ruang latihan, sementara minggu pagi menandai semangat baru untuk terus mengasah kemampuan, hal tersebut membuatnya tetap bisa fokus pada sekolah. Tantangan utamanya ada pada menjaga berat badan agar tetap ideal untuk bertanding.
Yang paling membekas baginya bukan hanya medali, tetapi hangatnya dukungan teman-teman baru yang ia temui di arena. Hamzah yang mengenal taekwondo sejak TK, awalnya hanya ingin belajar menjaga diri. Kini, sang pelatih di dojang menjadi inspirasinya untuk terus mengasah kemampuan. “Tidak harus menjadi nomor satu, yang penting paham apa yang kamu tekuni,” pesannya.
Arkana bermimpi menjadi polisi, sementara Hamzah tak menargetkan karier profesional di taekwondo. Namun keduanya sepakat bahwa olahraga ini telah mengajarkan banyak hal disiplin, keberanian, dan rasa percaya diri.
Mereka mengerti, kemenangan bukan hanya soal berdiri di podium tertinggi. Kemenangan sejati adalah saat hati tetap teguh, kaki terus melangkah, dan mimpi tak pernah padam. Di setiap tendangan yang melesat, seolah mereka menggoreskan garis di langit, sebuah tanda bahwa mimpi anak-anak pun mampu menyentuh cakrawala.
Penulis : Reni Hartanti
Editor : Ferredika
Recent Comments