Suasana peresmian Inclusive Home Care & Therapy Program SD Mumtaz pada International Public Talk di Mas Mansyur Hall, Masjid Al Manar, acara turut dihadiri Fadzlin Sofia Binti Mat Ghani (PSLC–Malaysia), Muflih Hasyim, M.Pd., Dr. Ng. Tirto Adi, M.P., M.Pd., Fatchul Mubarok, S.Th.I., M.Pd., dan Heni Dwi Utami, S.Sos., S.Pd. (Reni Hartanti/MumtazNews)
MumtazNews – SD Muhammadiyah 1–2 Taman (SD Mumtaz) menyelenggarakan International Public Talk and Grand Launching Inclusive Home Care & Therapy Program pada Sabtu, bertempat di Mas Mansyur Hall, Masjid Al Manar, Sidoarjo. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber lintas negara, yakni Dr. Mierrina, M.Si., Psikolog (Psikolog, Dosen UIN Sunan Ampel, dan praktisi psikologi serta pendidikan inklusif) dan Fadzlin Sofia Binti Mat Ghani (Psychologist, PSLC–Malaysia). Acara diikuti oleh wali murid inklusi SD Mumtaz, para guru, serta kepala sekolah jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK di bawah naungan PCM Sepanjang maupun yang berada di wilayah Taman, menandai kuatnya dukungan ekosistem pendidikan terhadap layanan yang ramah keberagaman.

Dalam pemaparannya, Dr. Mierrina menegaskan bahwa pendidikan inklusif tidak berhenti pada penerimaan administratif, melainkan harus diwujudkan melalui rancangan pembelajaran yang sungguh-sungguh memungkinkan setiap anak belajar secara optimal. Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan asesmen fungsional sebagai pintu masuk layanan, sehingga sekolah dan keluarga memiliki peta kekuatan, kebutuhan, serta dukungan yang realistis bagi anak.
Rencana pembelajaran individual yang terukur dan fleksibel, menurutnya, perlu disertai komunikasi yang hangat dan konsisten antara guru, GPI, dan orang tua agar rumah dan sekolah berjalan seirama. Ia juga menyoroti relevansi home program yang sederhana, konsisten, dan bermakna dalam rutinitas harian mulai dari kemandirian dasar hingga penguatan regulasi emosi serta penerapan prinsip Universal Design for Learning dan positive behavior support untuk mengurangi hambatan belajar sejak awal.
Sejalan dengan itu, Fadzlin Sofia Binti Mat Ghani menekankan urgensi penyelarasan tujuan terapi dengan praktik di sekolah dan di rumah. Dengan bahasa yang tenang dan sopan, ia menyampaikan,
“Pada hemat saya, intervensi menjadi benar-benar berkesan apabila matlamat terapi di klinik selari dengan amalan di bilik darjah dan rutin di rumah.” Ia menambahkan, “Mohon dipertimbangkan penggunaan jadual visual, analisis tugasan, serta latihan komunikasi fungsian. Pendekatan ini membantu anak memahami jangkaan dengan lebih jelas dan secara bertahap membina keupayaan berdikari.”
Kepala SD Muhammadiyah 2 Taman, Fatchul Mubarok, dalam sambutannya menegaskan komitmen sekolah terhadap layanan inklusi.
“Kami meyakini setiap anak adalah bintang—masing-masing memiliki cahaya, keunikan, dan bakat luar biasa. Tugas kita sebagai guru, orang tua, dan kepala sekolah adalah menjaga agar sinar itu tidak tertutup awan,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa saat ini sekolah mendampingi 95 siswa istimewa bersama Guru Pendamping Inklusi baik pada proses pembelajaran maupun saat intervensi. Menjawab kebutuhan masyarakat, sekolah membuka layanan Home Care yang dapat diakses secara umum dan siap mendampingi putra-putri istimewa di Kecamatan Taman, Sidoarjo, hingga Surabaya.
Apresiasi datang dari unsur persyarikatan. Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PDM Sidoarjo melalui Muflih Hasyim, M.Pd., menilai inisiatif SD Mumtaz sebagai langkah maju yang memadukan kepedulian, kompetensi profesional, dan tata kelola. Ia menegaskan bahwa mendidik anak inklusi menuntut keselarasan hati, ilmu, dan sistem yang berjalan beriringan serta berkelanjutan.
Dukungan serupa disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Ng. Tirto Adi, M.P., M.Pd., yang mengapresiasi inovasi SD Mumtaz. Ia menyatakan, sejauh pengamatan dinas, belum terdapat satuan pendidikan di Sidoarjo yang membangun ekosistem layanan inklusi sekomprehensif ini, seraya menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan peserta didik penyandang disabilitas dan kebutuhan belajar beragam merupakan tanggung jawab bersama sekolah, keluarga, dan pemerintah.
Inclusive Home Care & Therapy Program yang diluncurkan SD Mumtaz dirancang sebagai jembatan kolaboratif antara sekolah, rumah, dan tenaga profesional. Alur layanan mencakup registrasi dan skrining awal, asesmen fungsional, perumusan tujuan jangka pendek dan menengah, penyusunan intervensi yang terhubung dengan home program yang mudah diikuti orang tua, serta peninjauan berkala berbasis data harian sederhana. Dalam implementasinya, GPI dan guru kelas berkolaborasi melakukan adaptasi kurikulum dan strategi komunikasi fungsional di kelas, sedangkan keluarga memperoleh pendampingan terjadwal agar praktik di rumah berjalan konsisten.
Peluncuran ini meneguhkan peran SD Mumtaz sebagai mitra keluarga dalam tumbuh kembang anak. Dengan memadukan dasar ilmiah, sikap empatik, serta tata kelola yang akuntabel, sekolah berupaya menghadirkan layanan yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sekaligus mendorong replikasi praktik baik layanan inklusi pada satuan pendidikan lain di Kabupaten Sidoarjo dan sekitarnya.
Penulis : Reni Hartanti
Editor : ferredika
Recent Comments